Kenapa Cara Kita Memilih Pasangan Bisa Berubah Setelah Umur 25?



Aku pernah memperhatikan satu hal yang cukup menarik.

Kalau ngobrol sama orang yang usianya sudah mendekati 30, mereka sering bilang sesuatu seperti ini:

"Kalau dipikir-pikir, dulu gue kok bisa ya suka sama orang itu?"

Padahal dulu rasanya sudah yakin sekali. Rasanya sudah seperti, "iya ini orangnya."

Tapi beberapa tahun kemudian, ketika mengingat lagi hubungan di masa awal 20-an, banyak orang malah merasa heran sendiri dengan pilihan mereka. Termasuk aku.

Awalnya aku kira ini cuma karena pengalaman hidup saja. Semakin dewasa, semakin tahu apa yang kita mau.

Ternyata bukan cuma itu.

Ada juga penjelasan dari sisi neuroscience yang cukup menarik.

Di otak manusia ada bagian bernama prefrontal cortex. Bagian ini bertugas untuk hal-hal seperti:

- mengambil keputusan
- mengontrol impuls
- menilai risiko
- memikirkan konsekuensi jangka panjang
- merencanakan masa depan

Singkatnya, bagian ini adalah "manager" dalam otak kita.

Masalahnya, menurut banyak penelitian, prefrontal cortex baru benar-benar matang sekitar usia 24 sampai 26 tahun.

Artinya di usia remaja sampai awal 20-an, kemampuan kita dalam membuat keputusan jangka panjang sebenarnya masih berkembang.

Sementara itu, di usia yang sama kita justru mulai menjalani banyak hal baru dalam hidup.

Mulai kuliah.
Mulai bekerja.
Mulai hidup lebih mandiri.
Mulai memikirkan masa depan.

Dan tentu saja, mulai menjalani hubungan yang terasa lebih serius dibanding masa sekolah.

Kalau dipikir-pikir, ini kombinasi yang cukup menarik.

Di satu sisi kita merasa sudah dewasa.

Di sisi lain, sistem pengambilan keputusan kita sebenarnya masih dalam tahap penyempurnaan.

Tidak heran kalau banyak orang di usia awal 20-an lebih mudah tertarik pada hal-hal seperti:

- chemistry yang kuat
- sensasi hubungan yang intens
- romantisasi pasangan
- atau sekadar perasaan “seru” ketika bersama seseorang.

Bukan berarti itu salah.

Memang di fase hidup itu, pengalaman dan emosi sering terasa sangat kuat.

Masalahnya, terkadang fokus pada hal-hal tersebut membuat orang menjadi lebih toleran terhadap hal-hal yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan.

Hal-hal kecil yang mungkin dulu dianggap:

"ah gapapa lah"
"namanya juga hubungan"
"nanti juga berubah"

Beberapa tahun kemudian bisa terlihat sangat berbeda.

Menariknya lagi, penelitian dalam relationship psychology juga menemukan pola yang cukup konsisten.

Preferensi orang terhadap pasangan memang sering berubah seiring bertambahnya usia.

Pada usia remaja sampai awal 20-an, banyak orang lebih memprioritaskan hal-hal seperti:

- daya tarik fisik
- sensasi chemistry
- perasaan jatuh cinta yang intens
- hubungan yang terasa exciting

Namun ketika memasuki pertengahan usia 20-an, banyak orang mulai memikirkan faktor yang berbeda.

Misalnya:

- stabilitas emosi
- kemampuan komunikasi
- cara menyelesaikan masalah
- kesamaan nilai hidup
- kemampuan bertanggung jawab

Perubahan ini kadang terasa seperti perubahan selera.

Padahal sebenarnya lebih kompleks dari itu.

Ada kombinasi antara perkembangan otak, pengalaman hubungan sebelumnya, dan perubahan prioritas hidup.

Ada juga konsep yang cukup menarik dalam psikologi hubungan yang sering disebut sebagai maturity shift.

Sederhananya, ketika seseorang mulai memasuki fase hidup jangka panjang (contohnya: karier, pernikahan, atau keluarga) cara mereka melihat pasangan juga ikut berubah.

Fokusnya perlahan bergeser dari mencari pasangan yang "menarik dan penuh sensasi" menjadi pasangan yang "bisa diandalkan".

Kalau diringkas secara sangat sederhana:

dari exciting partner
menjadi reliable partner.

Dan yang cukup menarik, beberapa psikolog hubungan juga melihat bahwa usia 22 sampai 24 sering menjadi fase yang unik dalam perjalanan hubungan seseorang.

Kenapa?

Karena di usia ini banyak orang mulai memikirkan hal-hal yang lebih serius.

Ada yang mulai mempertimbangkan masa depan hubungan.
Ada yang mulai membicarakan pernikahan.
Ada juga yang mulai berpikir tentang kehidupan jangka panjang.

Namun pada saat yang sama, identitas diri seseorang sebenarnya masih berkembang.

Dalam psikologi perkembangan, fase ini bahkan punya istilah khusus: emerging adulthood.

Fase ketika seseorang masih mencoba memahami dirinya sendiri.

Masih mencari arah hidup.

Masih bereksperimen dengan berbagai pilihan.

Itulah sebabnya tidak jarang pasangan yang terasa sangat cocok di usia 22, ternyata tidak lagi terasa cocok di usia 26.

Bukan karena salah satu berubah menjadi orang yang buruk.

Tapi karena keduanya sama-sama berubah.

Cara berpikir berubah.
Prioritas berubah.
Pandangan tentang hidup juga berubah.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ini cukup masuk akal.

Manusia memang bukan makhluk yang statis.

Kita terus berkembang, belajar dari pengalaman, dan memperbarui cara kita melihat dunia.

Termasuk cara kita melihat hubungan.

Mungkin itu juga alasan kenapa banyak orang, ketika melihat kembali hubungan di masa awal 20-an, tidak lagi merasa malu atau menyesal.

Sebaliknya, mereka justru melihatnya sebagai bagian dari proses belajar.

Karena pada akhirnya, memahami apa yang tidak cocok sering kali sama pentingnya dengan menemukan apa yang benar-benar kita butuhkan dalam sebuah hubungan.

Komentar

Popular Posts